Aplikasi Teori Kemungkinan

APLIKASI TEORI KEMUNGKINAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPA 1 MAN PRON

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

mata kuliyah Bahasa Indonesia yang diampu

oleh Dra. Wahyu, M.Pd

Disusun oleh:

KUSTIATUL MUSTOFIROH ( 08-431788 )

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

STKIP PGRI NGAWI

Jalan Raya Klitik Km. 05 Telp. (0351) 749295


KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah serta inayah kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul, “APLIKASI TEORI KEMUNGKINAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPA 1 TAHUN PELAJARAN 2009/2010” tanpa ada halangan yang berarti.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliyah Bahasa Indonesia. Dimana dalam makalah ini akan dibahas mengenai “Teori kemungkinan dan Aplikasinya terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa” Atas bantuan berbagai pihak, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Selanjutnya kami bertrimakash kepada:

1. Drs. A. Widya Susanto, MM sebagai Ketua STKIP PGRI Ngawi

2. Dra. Wahyu, M.Pd sebagai dosen pembimbing program studi mata kuliyah Bahasa Indonesia

3. Teman sekelas semester III B yang turut membantu lewat kritik dan saran yang

membangun.

4. Semua pihak yang membantu hingga selesainya makalah ini.

Kami menyadari penyusunan makalah ini jauh dari harapan, namun kami telah berbuat maksimal dari awal hingga terselesaikannya makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkn dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi civitas akademika khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya. Terima kasih.

Ngawi, 29 Desember 2009

Penyusun

Kustiatul. M


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam percakapan sehari-hari seringkali siswa mengungkapkan kata-kata yang mengandung arti kemungkinan, kesempatan, dan peluang.

Wirodikromo(2004:105) berpendapat bahwa:

Kata-kata kemungkinan lebih sering kita jumpai dalam permainan. Misalnya, dalam percobaan melempar sekeping mata uang logam, percobaan melempar dadu bersisi enam, percobaan mengambil kartu dari setumpuk kartu bridge, dan lain sebagainya. Cabang matematika yang mempelajari cara-cara perhitungan derajat keyakinan seseorang untuk menentukan terjadi atau tidak terjadinya suatu kejadian atau peristiwa disebut ilmu hitung peluang (Theory of Probability).

Mendasar pada teori yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa peluang sering dijumpai dalam permainan. Misalnya, pada permainan melempar sekeping mata uang logam. Pada permainan tersebut memiliki dua kejadian yang mungkin yaitu kejadian muncul gambar atau angka. Sebagaimana kejadian di atas dapat terjadi dalam beberapa permainan diantaranya, pelemparan dadu bersisi enam, pengambilan kartu dari satu set kartu bridge, dan lain-lain.

Fitroh seorang siswi Madrasah Aliyah (MA) berkata, “Mungkinkah tahun depan saya bisa lulus UNAS?” Pertanyaan tersebut tidak mengandung unsur permainan, namun memiliki dua kemungkinan yaitu, lulus atau tidak lulus. Pertanyaan di atas adalah salah satu contoh pertanyaan yang membuktikan bahwa teori kemungkinan tidak hanya terjadi pada permainan. Berikut beberapa pertanyaan yang biasa muncul:

  1. Mungkinkah saya bisa mendapatkan nilai 8 untuk pelajran matematika?
  2. Mungkinkah saya dapat lulus SNMPTN untuk jurusan matematika tahun ini?

Dengan mengetahui peluang, seorang siswa memiliki beberapa kemungkinan tindakan yang akan dilakukan, yaitu:

  1. Putus asa, kemudian berhenti belajar
  2. Memiliki setengah harapan, namun tetap belajar dan pasrah pada hasil yang diterima
  3. Memilki harapan yang tinggi, dan tetap bersemangat belajar.

Dari ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa aplikasi teori kemungkinan dapat meningkatkan prestasi siswa.

  1. Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, Aplikasi Teori kemungkinan terhadap Prestasi matematika pada Siswa kelas XI IPA 1 MA dapat dirumuskan yaitu, Seberapa besar hubungan antara teori kemungkinan terhadap prestasi siswa?

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam analisa ini adalah untuk meningkatkan prestasi siswa melalui aplikasi teori kemungkinan.

BAB II

PEMBAHASAN

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) aplikasi berarti mengenai penerapan. Penerapan ilmu terhadap kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkup pembelajaran bagi siswa di lingkungan sekolah yang erat kaitannya dengan prestasi belajar siswa.

Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa. Ka!au menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “ prestasi adalah hasil yang dicapai “. Berdasarkan pendapat diatas, penulis berkesirnpulan bahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan. Sedangkan menurut W.J.S Purwadarrninto(1987:767) rnenyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-hal yang dikerjakan atau dilakukan “.

Jadi prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.

Prestasi yang dapat diraih oleh siswa tidak luput dari seberapa besar cara siswa mengambil peluang dari kejadian yang ada dalam kehidupan. Secara matematis kejadian atau peristiwa merupakan himpunan bagian dari ruang sampel. Peluang suatu kejadian yang diinginkan adalah perbandingan banyaknya titik sampel kejadian yang diinginkan itu dengan banyaknya anggota ruang sampel kejadian tersebut Peluang disebut juga dengan nilai kemungkinan.

Contoh :

Pada percobaan melempar sebuah dadu bermata 6, pada ruang sampelnya terdapat sebanyak 6 titik sampel, yaitu munculnya sisi dadu bermata 1, 2, 3, 4, 5, dan 6.
Kejadian-kejadian yang mungkin terjadi misalnya :

a. Munculnya mata dadu bilangan ganjil

b. Munculnya mata dadu bilangan prima

c. Munculnya mata dadu bilangan genap

Jika pada percobaan tersebut diinginkan kejadian munculnya mata dadu prima, maka mata dadu yang diharapkan adalah munculnya mata dadu 2, 3, dan 5, atau sebanyak 3 titik sampel. Sedang banyaknya ruang sampel adalah 6, maka peluang kejadian munculnya mata dadu prima adalah.

Diketahui: n(A)=3

n(S)=6

P(A)= n(A)

n(S)

= 3

6

= 1

2

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa teori kemungkinan memilki pengaruh terhadap prestasi belajar matematika. Berikut data analisis nilai matematika peluang dengan hasil ujian semester:

DAFTAR NILAI SISWA KELAS XI IPA I

TAHUN AJARAN 2009/2010

No.

Nama

Nilai Peluang

Nilai Ujian Semester

1

Aning Maratus. S

50

62.5

2

Aprilia Sri Ratna Sari

50

57.5

3

Avien Saputri

80

57.5

4

Dewi Nurul Aini

70

52.5

5

Dita Maratus. S. P

80

67.5

6

Diyan Pratiwi Kus. T

60

67.5

7

Elvira Dewi Rahma Wati

50

65.0

8

Eny Inganatul. M

90

60.0

9

Fakarotul Karimah

80

60.0

10

Fitrotul. H

80

72.5

11

Fristy Ayu Puji

70

70.0

12

Ida Ayu. F

70

7.0.0

13

Ifa Zuliatur. R

80

75.0

14

Ita Ftriya

50

62.5

15

Komsiyatun

10

60.0

16

Misrotul Nur. W

10

62.5

17

Qo’inul Muazizah

50

57.5

18

Rendri Eka Hariyani

100

62.5

19

Salindri Anita. R

70

70.0

20

Sarifatul. M

80

62.5

21

Siti Fatimah

60

80.0

22

Siti Umayah

100

60.0

23

Syarifah

60

72.5

24

Uswatun Khasanah

100

67.5

25

Wahid Nur Diana

70

90.0

26

Yulis Sa’idah

100

62.5

27

Ahmad Mufid. S. R

90

77.5

28

Al-Fatkhur Rohman

60

67.5

29

Arif Fatkhur Rohman

60

70.0

30

Dadang Wiyono

70

77.5

31

Moh. Misbahul. H

60

70.0

32

Moh. Syaihul Haq

100

92.5

33

Riko Erdiansyah

80

80.0

34

Syaiful Anwar

60

67.5

35

Sayit Amrullah

50

55.0

36

Thoha Muslih Rifa’i

80

82.5

37

Yusuf Syafi’i

90

67.5

Jumlah

2480

2515

Berdasarkan data di atas dapat ditentukan prosentase nilai peluang dengan nilai ujian semester melalui rumus prosentase yaitu:

Jika diketahui:

Nk Nilai Peluang : 2480

R Peluang : 37

Nk Nilai Ujian Semester : 251.5

R Nilai Ujian Semester : 37

NP Peluang = Nk x 100%

R

= 2480 x 100%

37

= 67.02 %

NP Ujian Semester Matematika = Nk x 100%

R

= 2515 x 100%

37

= 67.9 %

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Analisis yang dilaksanakan di kelas XI IPA 1 MN paron melalui hasil ulangan harian bab peluang berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar matematika.

B. Saran

Sehubungan dengan analisa yang dilaksanakan, maka untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, diharapkan siswa dapat memahami teori kemungkinan dan aplikasinya terhadap penilaian ujian semester.

DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia Bahasa Indonesa, Ensiklopedi Bebas

Wirodikromo, Sartono.2004. Matematika untuk SMA Kelas XI. Erlangga: Jakarta

Senin, 12 April 2010

Muslimah activity

Komunikasi Ikhwan dan Akhwat

Bagaimana mensolidkan kinerja ikhwan dan akhwat , karena selama ini sering kali antara ikhwan dan akhwat bermaksud menjaga interaksi, namun terkadang ada hal hal yang seharusnya dikomunikasikan namun tidak di lakukan sehingga seringkali muncul masalah atau kesalahpahaman ikhwan dan akhwat ?

Masalah klasik yang hampir tidak pernah usai hingga saat ini, bagaimana agar komunikasi ikhwan dan akhwat berjalan baik dengan tetap menjaga hijab. Saya masih berpikir kenapa masalah ini bisa muncul. Akan tetapi ketika saya mencoba merenung, kejadian ini bisa terjadi akibat idealisme yang masih tinggi dari para kader dakwah yang betul betul ingin menjaga hatinya dari segala fitnah yang bisa merusak keberkahan dakwah. Tentu ini adalah hal positif bagi dakwah kampus yang kita cintai ini.

Tapi perlu kita evaluasi terkait apakah batasan yang terlalu rigit ini membuat komunikasi terhambat dan berakibat pada menurunnya produktifitas dakwah. Jika memang tidak berakibat negatif, tentu itu merupakan kabar baik, dan mungkin Anda bisa memberikan solusi yang baik untuk mengatasi kendala ini. Saya akan mencoba memaparkan pandangan saya terkait problematika ini dengan latar belakang saya di kampus “ikhwan” ITB.

Ketika membaca buku men from mars and women from venus, saya mulai sedikit memahami karakter ikhwan dan akhwat dari segi psikologi. Saya mencoba melalukan beberapa pengamatan kepada teman-teman saya di ITB terkait fenomena ini. Rapat demi rapat, kepanitiaan demi kepantiaan hingga sekarang dalam badan pengurus harian GAMAIS, saya baru memahami bagaimana seorang pria berpikir tentang perempuan dan perempuan berpikir tentang pria.

Untuk para pria, perlu Anda pahami bahwa perempuan relatif lebih peka dan sensitif ketimbang pria. Perempuan lebih tertata dalam menyusun agenda, maka sering kita lihat perempuan lebih rapih dalam segala hal. Karena mereka melakukan sesuatu dengan perencanaan, baik itu jangka pendek atau panjang. Perempuan yang bekerja biasanya lebih rajin ketimbang pria, ini mengapa kita mulai melihat para perempuan yang telah menjadi profesional atau pejabat, karena mereka rajin dalam menjalankan tugas. Satu hal yang perlu diingat oleh para pria adalah perempuan tidak suka di khianati dan perempuan itu butuh kepastian.

Untuk para perempuan, perlu saya sampaikan bahwa pria memang cenderung egois dan self-oriented. Seorang pria lebih bisa menghabiskan waktunya sendirian ketimbang perempuan. Dan seorang pria ketika sudah masuk keduniannya akan sulit untuk diganggu. Sebutlah seorang pria yang sedang badmood dan ia memilih untuk sendiri untuk mengembalikan mood nya, maka ia akan sangat terganggu sekali jika ada yang menggangu, bahkan sebuah sms bisa membuat mood nya lebih parah. Sehingga seringkali ia mengabaikan panggilan yang ada. Saya menyebutnya, pria mempunyai gua sendiri yang dimana hanya ia yang memahaminya, dan seorang perempuan sepertinya harus menunggu pria ini keluar gua nya baru bisa memanggil pria ini.

Pria relatif lebih ingin diperhatikan dan dipahami, karena sedikit ”sentuhan” saja bisa membuat seorang pria berpikir terbalik 180­o. Oleh karena itu, seorang perempuan kiranya perlu memahani mengenai kebutuhan dasar pria ini untuk membentuk pola komunikasi yang baik.

Pada kasus nyata, bisa kita ambil contoh dua buah kisah yang saya akan beri pandangan point of view yang harus diambil. Kisah pertama, sekelompok ikhwan dan akhwat yang berada dalam sebuah kepanitiaan. Dimana mereka biasa menjalankan rapat rutin untuk membahas segala sesuatu. Pada suatu ketika, ketua panitia dihadapi pada sebuah kondisi dimana butuh keputusan cepat, padahal saat itu waktu sudah menunjukan pukul 19.00, dan keputusan harus sudah ada malam itu juga. Sehingga ketua panitia ( ikhwan tentunya ), memutuskan untuk mengumpulkan seluruh panitia ikhwan untuk membahas masalah tersebut, dan terselesaikanlah masalah itu. Esok siangnya seluruh panitia rapat kembali ( ikhwan dan akhwat ), dan ketua panitia menceritakan kejadian malam hari itu, setelah mendengar cerita itu, pihak panitia akhwat merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, akhwat merasa hanya sebagai pelaksana keputusan dan berbagai keluhan lain.

*pada kasus ini akhwat merasa di khianati dalam arti tidak diberi kepercayaan untuk ikut berpikir bersama, atau merasa dilangkahi dalam mengambil keputusan.

*pria ketika sudah mengerjakan sesuatu relatif keasikan sendiri sehingga lupa bahwa ada pihak akhwat yang perlu dilibatkan

Kisah kedua, seorang ketua muslimah di sebuah lembaga dakwah mencoba meng-sms seorang ketua LDK di waktu pagi hari ( sekitar waktu tahajud ), akhwat ini mengetahui bahwa sangat tidak ahsan untuk meng-sms seorang ikhwan pada waktu tersebut, akan tetapi, karena sebuah masalah yang perlu dibahas segera, dengan segala pertimbangan dan kebulatan hati, ia memutuskan untuk meng-sms ketua LDK ini dan meminta diadakan rapat mendadak pagi itu untuk membahasa hal yang penting. Akan tetapi, dikarenakan ketua LDK ini sedang dilanda masalah pribadi yang membuat dirinya tidak ingin diganggu untuk sementara waktu, maka ia tidak membalas sms ketua muslimahnya. Mungkin dikarenakan, berbagai miscall yang dilontarkan oleh akhwat ini, ketua LDK ini akhirnya memutuskan untuk membalas sms akhwat ini dengan asalan saja dan seakan menggantungkan keputusan. Hingga akhirnya akhwat ini mengancam sesuatu sehingga ketua LDK itu memutuskan untuk mengadakan rapat di pagi harinya. Setelah menjalani rapat, akhwat ini meminta berbicara terhadap ketua LDK, dan mengungkapkan kekecewaannya kepada ketua LDK ini dan mengatakan bahwa ketidakpastian yang ketua LDK berikan membuat ia tidak tenang.

*perempuan tidak suka ketidakpastian yang berlarut, butuh ketegasan sikap. Saya merekomendasi kepada para pria untuk sesegera mungkin membalas sms akhwat dengan baik untuk menghindari konflik seperti diatas.

*pria yang sedang dilanda masalah tidak ingin diganggu, bahkan ketika kadar masalahnya cukup tinggi, ia tidak ingin diganggu oleh amanah dakwah, ia lebih memilih sendiri dan tidak bertemu dengan orang orang untuk sementara waktu

Dengan memahami karakter masing-masing ini, saya berharap Anda dapat mencoba mulai mengaplikasikan hal untuk memahami kekurangan masing-masing. Bermula dari pemahaman ini, selanjutnya saya akan memaparkan bagaimana cara lain untuk membangun komunikasi yang baik dengan tetap menjaga batasan yang ada.

Hijab saat rapat

Beberapa kampus yang pernah saya kunjungi relatif punya cara tersendiri dalam mengaplikasikan hijab dalam sebuah rapat, ada yang membatasa pria dan perempuan dengan batas permanen seperti tembok, ada yang beda ruangan, ada yang dalam bentuk papan setinggi dua meter, atau ada yang cukup dengan jarak 2 meter antara ikhwan dan akhwat. Semua tergantung kebutuhan dan budaya di masing masing kampus. Bagaimana pun bentuk hijab nya , ada beberapa hal yang perlu dipenuhi, yakni :

1. Jelasnya perkataan setiap anggota rapat

2. Tidak membuat ikhwan dan akhwat terkesan rapat sendiri

3. Pemimpin rapat bisa melihat semua peserta rapat ( ikhwan dan akhwat )

4. Kondisi peserta harus tetap kondusif, jangan sampai karena terpisah oleh tembok, atau papan besar membuat peserta rapat tidur-tiduran karena tidak tampak oleh lawan jenis

5. Ada medua penghubung informasi yang bisa dilihat oleh semua peserta, seperti papan tulis, agar tidak terjadi assymetric information

6. Tidak menimbulkan kesan angker atau eksklusif terhadap orang selain kader yang melihat proses rapat

Proses komunikasi yang efesien

Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefesienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan waktu untuk rapat.

Versi 1

Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil UAS sudah ada ? J

Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih, uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah !!

Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapa yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?

Akhwat : hmhmhm... kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa

Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah

Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum

Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !! wassalamu’alaikum

Akhwat : wa’alaikum salam

Versi 2

Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara

Akhwat : afwan, kebetulan ada quis, gimana kalo besok siang aja?

Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum

Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efesien dan “secukupnya”.

Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan.

Selain itu perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik. Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi, karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan pengepakkan susu dan minyak.

Regulasi tidak tertulis

Adanya regulasi tidak tertulis, atau mungkin tertulis jika cocok dengan budaya di LDK masing-masing, akan tetapi saya merekomendasikan kepada Anda agar regulasi terkait hubungan ikhwan dan akhwat bersifat tidak tertulis saja. Regulasi ini adalah ketentuan yang “memaksa” para kader untuk mengikutinya, dan bentuk sangksi yang diberikan berupa sangksi moral saja. bentuk regulasi ini seperti etika ketika rapat yang bisa dimaktubkan dalam mekanisme rapat, di GAMAIS kami membuat beberapa ketentuan rapat, yakni terkait posisi dan waktu rapat yang diperbolehkan, seperti hijab dengan jarak 2-3 meter antara ikhwan dan akhwat, rapat antara ikhwan dan akhwat tidak boleh dilakukan setelah maghrib, dan sebagainya. Regulasi lain terkait, pembatasan hubungan ikhwan akhwat melalui pertemuan tatap muka, sms, maupun telepon diatas pukul 21.00 hingga subuh, kecuali dalam keadaan darurat, dan lain-lain.

Bentuk dan penerapan regulasi ini perlu disesuaikan dengan kondisi kader di Lembaga dakwah. Saya memang sedikit moderat terkait hal ini, sehubungan dengan jumlah kader baru yang semakin membludak¸sehingga butuh waktu untuk pemahaman, akan tetapi bagi kader inti akan ada ketentuan khusus.

Pemanfaatan media terbuka bersama

Media bersama yang dimaksud seperti mailing list (milist), papan komunikasi (pakom), yahoo!conference, dan lainnya. Media ini bersifat terbuka dan bisa digunakan dan di akses bersama, sehingga pembicaraan yang dilakukan akan seputar pada inti permasalahan. Sebutlah pembicaraan pemimpin ikhwan dan akhwat seputar IP Kader, dengan media terbuka bersama ini akan membuat mereka akan membahasa hanya tentang IP kader dan solusinya. Akan tetapi jika pembicaraan tanpa media pembatasnya, maka bisa jadi pembicaraan antara dua pemimpin ini menjadi curhat masalah IP mereka masing-masing.

Penyesuaian dengan iklim Lembaga Dakwah

Dari semua kebijakan dan tata etika komunikasi ikhwan dan akhwat ini perlu adanya wiseness dari pihak pemimpin untuk menyesuaikan dengan kondisi masa kampus dan kader di Lembaga Dakwah. Jangan sampai komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat justru membuat objek dakwah menjadi takut untuk bergabung bersama kita, dan justru me-demarketisasi lembaga dakwah kita. Kebijakan yang diterapkan di GAMAIS memang moderat, dan tidak terlalu rigit terkait hal ini. Pertimbangan yang dilakukan mengingat GAMAIS sedang membangun pendekatan dan kepercayaan secara masif kepada objek dakwah. Hal ini memang sedikit menuntut kami menjadi moderat akan beberapa hal yang bisa di tolerir. Seperti rapat yang tanpa hijab fisik, lalu ikhwan dan akhwat jika bertemu tidak selamanya harus saling membelakangi, cukup tidak bertatapan, dan lain lain. Memang ini menjadi tantangan tersendiri untuk memastikan kemoderatan ini tidak berdampak pada rusaknya keberkahan dakwah, akan tetapi kami berhasil membangun image bahwa GAMAIS tidak angker dan eksklusif.